Tanah Yang Baik Untuk Tanaman

Tanaman yang tumbuh dengan baik pasti dipengaruhi oleh jenis tanah dan pupuk yang berkualitas. Bagi orang yang memiliki tanaman, tentunya sudah paham betul dengan berbagai kualitas tanah dan pupuk. Berikut ini jenis tanah berkualitas yang sering digunakan untuk menanam tanaman.

  1. Tanah Regosol
    Jenis-jenis tanah yang baik untuk tanaman, yang pertama adalah tanah regosol. Tanah ini berasal dari pelapukan material yang dikeluarkan oleh letusan gunung merapi atau aktivitas gunung merapi (seperti lapili, pasir, debu dan lahar). Secara pertumbuhan, sebenarnya jenis tanah ini belum mengalami perkembangan yang sempurna. Ciri fisik dari tanah regosol, ia memiliki tekstur yang kasar, dengan Ph 6-7. Meski dikatakan subur, namun jenis tanah ini tidak dapat ditanami dengan sembarang tanaman. Ia memiliki sifat yang sulit untuk menampung air. Tanaman yang tidak terlalu banyak memerlukan air, sangat cocok untuk ditanam disini. Itulah mengapa sebagian besar penduduk yang bermukim di daerah pegunungan yang pernah meletus, mereka lebih sering menanam jenis palawija yang tidak terlalu membutuhkan banyak air.
  2. Tanah Orgonosol
    Sama dengan tanah regosol, tanah orgnosol ini juga dapat kita temukan di Indonesia. Terbentuknya tanah orgonosol berasal dari pelapukan dan pembusukan bahan bahan organik. Biasanya, tanah ini akan lebih mudah kita temukan pada daerah rawa-rawa (daerah yang banyak mengandung air). Jadi jika cirinya ia mengandung banyak air, secara fisik tanah ini memang lebih lembek daripada tanah regosol tadi.
  3. Tanah Humus
    Tanah humus adalah bagian dari jenis tanah orgonosol. Dari aspek kesuburannya, tanah humus merupakan tanah yang paling subur diantara jenis tanah orgonosol yang lainnya. Secara fisik, tanah ini memiliki warna gelap yang kehitaman, sebagai identitas bahwa ia memiliki kandungan unsur hara yang tinggi. Dalam dunia pertanian, biasanya tanah jenis ini banyak digunakan sebagai media tanam pada budidaya tanaman padi. Anda akan lebih mudah menemukan jenis tanah humus di daerah Sumatera, Sulawesi, Kalimantan dan sebagian Pulau Jawa. Jadi tidak heran memang jika daerah-daerah tersebut termasuk penghasil pertanian terbesar dibandingkan daerah Papua yang memiliki jenis tanah berbeda.
  4. Tanah Gambut
    Meski tanah gambut adalah berasal dari induk yang sama dari tanah humus yakni tanah regosol, namun keduanya memiliki sifat yang amat berbeda. Dari kandungan zat organik yang ada, tanah gambut juga termasuk tanah yang memiliki banyak zat organik. Namun ia memiliki sifat yang asam. Kita tahu bahwa proses terjadinya hujan asam adalah kejadian terburuk yang dapat merusak banyak hal di bumi, termasuk tanaman. Lalu bagaimana jika tanah yang mengandung asam? Tanah yang mengandung asam memang tidak mudah untuk ditanami dengan berbagai bibit tumbuhan. Sampai saat ini, umumnya tanah gambut digunakan untuk menanam kelapa sawit. Seperti di daerah Kalimantan dan Sumatera.
  5. Tanah Latosol
    Jenis tanah yang baik untuk tanaman yang ketiga ialah tanah latosol. Tanah ini terbentuk dari aktivitas pelapukan batuan sedimen dan metamorf. Pada umumnya kandungan unsur hara ini dari rendah sampai sedang. Namun tanah kelebihan dari tanah latosol, ia mampu menahan erosi karena struktur tanahnya dapat menyerap air dengan baik.
    Kandungan bahan organik yang ia miliki berkisar antara 3-9 % tapi biasanya sekitar 5% saja. Warna ungu kecokelatan dengan Ph 4.5-6.5 menjadi hal yang menarik perhatian. Dengan ciri warna tanah tersebut, anda mungkin akan mudah untuk mencarinya. Tapi dengan Ph yang besar pada angka tersebut, mengapa tanah ini tergolong subur? Ternyata tanah yang juga memiliki nama lain inceptisol ini, ia memang memiliki kandungan kimiawi yang kurang baik. Namun disinilah ia melengkapi kekayaan jenis tanah di Indonesia, karena justru memang ada tanaman yang sangan membutuhkan jenis tanahnya. Seperti yang ada di persawahan. Yakni padi, sayuran dan buah-buahan.
  6. Tanah Alluvial
    Tanah alluvial tergolong tanah yang muda, ia terbentuk dari endapan material yang halus pada aliran sungai. Oleh sebab itu, kita akan mudah menemukannya disekitar hilir sungai. Ph rendah yang dimilikinya (5.3-5.8) menjadi salah satu kelebihannya, karena kondisi memudahkan petani untuk mencangkulnya. Pada umumnya, tanah alluvial memiliki warna kelabu dengan struktur lepas lepas. Tidak ada angka kandungan unsur tanah alluvial yang menjadi ciri khasnya secara umum, karena tanah ini sangan dipengaruhi oleh iklim wilayahnya. Sehingga perbedaan wilayah memungkinkan adanya perbedaan kandungan unsur yang dimilikinya. Tanah ini cocok untuk ditanami padi, palawija dan beberapa jenis rumput yang sengaja dibudidayakan (seperti rumput gajah untuk makan ternak). Daerah Sumatera, Jawa dan Papua adalah pemilik terbesar jenis tanah tanah ini di Indonesia.
  7. Tanah Podsolik Merah Kuning
    Tanah ini seringkali disebut dengan PMK. Curah hujan yang tinggi dan suhu daerah yang rendah, akan berkemungkinan membentuk struktur tanah PMK. Berdasarkan namanya, tanah ini memang memiliki warna merah sampai kuning yang mengartikan kurang subur karena pencucian. Meski ia memiliki Ph rendah, ternyata tanah ini termasuk jenis tanah yang baik untuk tanaman pada persawahan (tanaman yang memerlukan banyak air).
  8. Tanah Laterit
    Tidak berbeda jauh dengan PMK, tanah laterit ini memiliki suhu yang jauh lebih tinggi dibandingkan PMK. Tanah ini berasal dari tanah subur dan kaya akan unsur hara, namun hilang karena larut dibawa air hujan. Ia memiliki unsur hara yang sangat minim. Namun meskipun tanah in tadinya subur kemudian berubah menjadi tidak subur yang diakibatkan curah hujan tinggi, namun secara khusus ia masih tergolong subur karena sangan cocok untuk tanaman jambu mete dan kelapa. Kita akan banyak menjumpainya di sebagian Jawa, Kalimantan dan Sulawesi.
  9. Tanah Litosol
    Meski bukan bagian dari tanah regosol, namun tanah litosol ini masih bisa dikatakan bahwa ia masih saudara dengan tanah regosol. Karena keduanya sama-sama tergabung dalam ordo tanah entisol. Keduanya sama-sama dihasilkan dari aktivitas gunung merapi. Namun litosol berstruktrur besar-besar dan kandungan unsur haranya rendah. Meski begitu tanah ini masih subur untuk ditanami palawija.
  10. Tanah Rendzina
    Nama yang cukup unik dan keren dibandingkan yang lainnya. Meski terbentuk dari batuan basalt, batu kapur dan granit. Namun teksturnya teksturnya lembut dan mampu mengikat air. Tanah rendzina sedikit mengandung hara, dan memiliki Ph yang tinggi. Sangat cocok untuk ditanami palawija. Keberadaannya tersebar di Maluku, Papua, Aceh dan Sulawesi.
  11. Tanah Mediteran
    Tanah ini mudah ditemukan pada daerah yang beriklim lembab. Ia terbentuk dari batuan berkapur yang banyak mengandung karbonat. Ternyata tanah mediteran memiliki banyak kandungan air, Al, Fe dan bahan organik lainnya. Sehingga tanah ini termasuk cocok untuk dipersawahan. Keberadaannya tersebar di Jawa, Sulawesi, Sumatra dan Nusa Tenggara.
Baca Juga >  Tukang Taman dan Kolam Minimalis Batu Alam

Itu tadi jeni-jenis tanah yang baik untuk tumbuhan. Beragamnya macam tumbuhan, jenis-jenis akar tumbuhan, kebutuhan tumbuhan dan lingkungan hidup yang disukai oleh tumbuhan, memungkinkan berbagai tanah untuk ditanami dengan tanaman yang berbeda-beda. Seperti pada tanah lempung yang baik untuk padi, ia tergolong subur. Namun akan menjadi seperti tanah yang tidak subur jika kita tanami palawija yang tidak terlalu membutuhkan banyak air.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *